Minggu, 22 Januari 2012

Wanita Bertangan Besi Itu Kupanggil Mami




Ini adalah surat yang kuikutsertakan dalam #Dear Mama Project# bersama nulisbuku.com


Aku tulis surat ini untuk  seseorang wanita yang kupanggil dengan sebutan paling  istimewa,  karena memang  mami  adalah  wanita paling luar biasa  dalam hidupku.

Mami  sayang , apa khabar?

Kubayangkan kau sedang duduk diam ditepi pembaringan dengan pandangan yang semakin menua dan badan yang kian melemah. Kadang kau menangis sendirian membayangkan jiwa-jiwa mungilmu yang kini telah terlepas dari genggaman.  Kulihat dalam diam, betapa kau semakin tenggelam di larutnya malam, dalam sujud sujud panjang yang semakin sering kau lakukan tuk sekedar memanjatkan doa-doa pengharapan dan  menuangkan kerinduan yang sudah semakin tak tertahankan.

Mami sayang, adakah kau pernah menyesal dengan apa yang sekarang kau rasakan sekarang?

Aku teringat ketika kau masih berdiri kokoh dengan hardikan dan suara menggelegar yang merupakan ciri khasmu, cara mendidikmu  yang  tak biasa. Kau cambuk kami dengan teriakan-teriakan  keras an kata-kata setajam pisau. Kau biarkan kami meraung kesakitan  hanya tuk membuktikan sebuah ketegasan,  bahkan tak jarang  kau biarkan kami terisak pilu dan menunduk malu  demi sebuah kejujuran. Begitu banyak pelajaran yang kau tanamkan alam diri kami anak anakmu, pelajaran berharga yang  sampai sekarang akan selalu kami ingat.

Mami sayang,

Ketika kusempatkan untuk menulis surat ini, ada sebongkah penyesalan yang akhirnya pecah dalam sebentuk tangisan panjang. Disini hujan Mi, dan  derasnya hujan seakan menjadi nyanyian panjang yang menemaniku  saat ini. Maafkan aku yang terlalu sibuk dengan duniaku, maafkan anakmu ini yang tak pernah sempat sekedar mengucap sepatah kata tuk sedikit menepis kerinduanmu. Kesibukan membuatku terlena, aku sekarang juga tlah memasuki siklus itu, dimana aku akhirnya  menjadi seorang ibu dari dua putra putriku. Baru kusadari betapa besar pengorbananmu Mi. Maaf bila aku terlambat menyadari, bahwa jiwamu yang semakin tua tergerus usia semakin mendamba anakmu tercinta untuk sekedar menyapa. Aku tahu kau terluka, karena anak anak yang dulu begitu kau banggakan tak lagi mengingatmu.

Mami sayang,


Dulu ketika kecil, canda riang kami tak henti menemanimu. Kau besarkan kami dengan penuh kasih meski dengan cara yang amat tidak biasa bagi kebanyakan orang. Bagaimana mungkin kelembutan itu bisa kau hadirkan bila yang kami dengar adalah kata kata  setajam pedang dan suara yang menggelegar. Kau memang perempuan yang tak biasa Mi, aku masih akan selalu bangga mengeja dan memanggilmu Mami hingga saat ini bahkan sampai nanti.  

Mami sayang,


Adakah Tuhan sengaja mengirim engkau dengan jiwa tak biasa untuk anak-anak seperti kami. .?


Aku masih sering bertanya dalam hati, bagaimana caramu menutup perih ketika kau melepas kami berempat untuk berjuang sendiri meninggalkan kau sendiri  berselimut sepi. 


Aku masih tak bisa tuk sekedar membayangkan bagaimana kau merana dalam gelisah menunggu berita yang tak kunjung tiba.

Mami sayang,


Kami hanya sempat berkumpul denganmu sampai tamat sekolah dasar. Setelah itu dengan tangan besimu kau kirim kami satu persatu ke pulau antah berantah yang semula hanya dapat kami eja dari peta di ruang kepala sekolah. Keterbelakangan pembangunan di pulau Sumatera membuat kami berbeda dengan yang lainnya. Cara pandang penduduk sekitar kami  tak pernah sejalan dengan cita-citamu. Ah Mami, panggilan yang sampai sekarang masih terasa sedikit menakutkan tapi juga sangat kurindukan. Betapa kau berjuang melawan  hati kecilmu sendiri. Setelah besar aku tahu tak pernah ada kata yang paling menyakitkan dari seorang ibu selain perpisahan dengan anak anak yang kau sayangi. Walaupun hanyalah  untuk sementara.

Mami sayang,


Kau tegarkan hatimu yang rapuh yang tersembunyi dibalik keangkuhan sikapmu dan  ketegasan tindakanmu untuk mengirim kami ke tanah Jawa. Kau katakan pada kami bahwa  darah Yogya ada dan mengalir dalam nadi kami. Tugas kami untuk ikut mengenal dan marasakan  keberadaan dan nafas tanah kelahiran papi. Kau bulatkan tekadmu untuk melepas kepergian kami demi sebuah kata yaitu cita. Tidakkah kau sadari bahwa  kami hanyalah anak anak yang masih butuh kasih sayangmu..?

Masih adakah terselip rasa iba dihatimu melihat kami harus berjuang sendiri di tempat yang tak pernah kami bayangkan..?


Tapi kau tetap angkuh dengan pendirianmu. Kau biarkan kami menangis dan mengiba tanpa pengampunan.

Mami sayang,


Aku memohon kepada Tuhan, tolong kabulkan permintaan  wanita yang  semakin rapuh termakan usia itu, tolong jadikan  kami penjaganya sampai maut memisahkan kami. Tak pernah cukup dan berlebihan kasih yang pernah ia  kirimkan kedalam jawa jiwa suci kami. Tolong penuhi keinginannya ya Allah, karena  dari semua  yang diinginkannya , anak yang berbakti adalah yang utama.

Mami sayang,


Kau adalah jiwa letih dan raga rapuh yang  telah turut menyemarakkan langkah kami. Tetaplah tegar dan kuat karena  sekarang adalah saatmu untuk merasakan kebahagiaan. Maaf bila  ada satu raga yang tak bisa kau dekap  erat karena terpisah jarak. Tetaplah tersenyum, tetaplah jadi matahari kami, karena sampai kapanpun kami akan selalu membutuhkan Mami  layaknya sebuah keegoisan yang  tak pernah mati.

4 komentar:

  1. sampe nangis bacanya... bagus

    BalasHapus
  2. subhanallah.....

    entahlah....

    gak tau harus komen apa ....

    speechless....

    BalasHapus
  3. (T_T)
    gk tau juga mw komen apa..

    BalasHapus
  4. Mbak ak tersayang
    Membaca tulisan ini sungguh membuatku menangis, terasa begitu sakit.
    Beribu pertanyaan, beribu kesakitan, beribu tangisan mungkin di rasakan mbak dan saudara2 saat harus berpisah dr mami.
    ada sedikit teori dariku, mungkin..... tp ini sekedar teoriku.

    Sosok mami adalah jiwa yg tertutup dan mungkin saja d besarkan dgn kondisi jauh dr kasih sayang hingga terbentuk pribadi spt yg mbak ceritakan.
    Mami terbiasa terdidik dgn keras hingga tak sadar menerapkan pd buah hatinya hal yg sama.
    Namun mbak ak tersayang
    Jgn lupa ......
    Mami selalu memikirkan masa depan seluruh anak2nya, beliau tdk menginginkan nasib anak2nya sama seperti yg terdapat d sekitaran daerah tsb.
    Coba skrg mbak bayangkan, bila saja mami tidak bertangan dingin, apa ak akan mengenal seorg mbakku yg kuad, tegar, bawel, namun penuh cinta ksh spt skrg ini? Seorg ibu yg rela melepaskan pekerjaan demi mengasuh kk dan chio agar anak2nya tdk merasakan hal yg sama spt mbak rasakan dahulu?
    Air mataku terus mengalir mbak, pertanyaanku apakah mbak dan saudara2 mbak bs spt skrg kalau bukan tangan besinya mami?
    Kasihanilah mami, sayangi beliau, mungkin yg lebih tersakiti d sni adalah beliau, tp keinginan beliau adalah agat anak2nya menjadi sukses dunia akhirat.
    Percayalah mbak, mami adalah seorg ibu yg tegar dan slalu memikirkan masa depan anak2nya walau harus memakai topeng agar air mata dan kesedihan tdk terlihat d raut wajahnya

    BalasHapus