Senin, 27 April 2015

Sahabat Masa Kecilku, Part #1

Aku mengingatmu.
Kau yang selalu menjaga jarak aman dariku.
Dengan badan tegap dan kulit kecokelatan yang kau dapat dari keseharianmu, fisikmu jauh melampaui teman-temanmu.

Tak seperti kami, kau selalu datang terlambat.
Dengan badan penuh keringat dan seragam yg  tampak lusuh, kau menjelaskan alasanmu.
Sekilas kulihat rona malu membanjiri wajahmu ketika teman sekelas kita mulai menyorakimu.

Kau tak pernah dekat denganku.
Bahkan kupikir kau sengaja menjauhiku.
Kau terlihat sebal setiap kali aku dianakemaskan guru.

Kau mungkin tak pernah tahu,
Betapa aku ingin berteman denganmu.
Betapa aku ingin menjadikan kau sahabatku.

Kau mungkin mengira
Aku hanyalah anak manja
Yang selalu mendapatkan hak hak istimewa karena aku anak kepala sekolah.

Aku mencarimu
Mencari khabarmu di setiap kepulanganku.
Tapi kau menghilang.

Hingga saat ini, aku masih merindukanmu
Sahabatku.

#SahabatMasaKecil

Kencan Perpisahan (Part #1)

Kiara mengumpat kesal.
Dari kejauhan terlihat  lalu lalang kendaraan dengan sinar lampunya  yang menyilaukan.

Kembali dilihatnya layar televisi di depan, sambil menajamkan telinga.
Lagu Chantal mengalun pelan menyertai kepergian Ben Affleck dan Bruce Willis.
Biasanya Kiara akan ikut menangi bersama pemeran wanita yang bersedih itu.
Tapi suasana hatinya sedang gelisah.
Bahkan dengan sinis Kiara mengejeknya "cengeng."

Suara vespa butut terdengar berhenti di depan pagar kostnya.
Kiara tak bisa melihat dari lantai dua tempatnya duduk.
Jarak pandangnya terhalang kanopi tua yang mulai retak karena sinar matahari.

Dihitungnya sampai sepuluh sambil menahan napas.
Ponselnya bergeming.
Tak ada panggilan pun pesan yang masuk.

"Sial!!' umpat Kiara untuk kesekian kalinya sambil bergegas turun melewati tangga dengan suara tak tok tak tok yang tak berusaha disamarkannya.

Gerutuan tak jelas terdengar dari arah ruang televisi di lantai bawah, tempat induk semangnya yang cerewet sedang menonton sinetron yang dibencinya.
Kiara mempercepat langkahnya setengah berlari ke arah garasi, menyambar helm putih di motor matic-nya dan membuka pintu.

Udara dingin menyergapnya, lututnya yang tak tertutup kain berdesir.
Dipasangnya wajah cemberut ke arah lelaki tinggi di depannya.

"Sudah siap?, filmnya akan segera dimulai." ucap si lelaki sambil menaiki vespa biru dongker disampingnya.

Kiara perlahan menghampiri lelaki tersebut sambil menghentakkan kakinya.
"Kenapa Kia?, nggak jadi nonton?" tanya si lelaki santai.

Kiara hanya diam, sambil memakai helm Kiara duduk  di sadel belakang dengan melingkarkan tangannya ke pinggang lelaki itu.
Tubuhnya menggigil ketika sebuah tangan yang besar dan hangat membelai jemarinya.
Kain pantai motif bunga yang menutupi rok hitamnya berkibar pelan tersapu angin.

Mereka menuju bioskop tua tak jauh dari kost Kiara.
Jalanan ramai oleh muda mudi seperti mereka.
Sambil tetap melingkarkan lengannya, Kiara menyandarkan kepalanya di pinggang si lelaki.
Belaian di jemarinya semakin intens.
Kiara mendesah mengabaikan perasaan yang bergejolak di dadanya.

***
Kiara sibuk menatap etalase tempat pegawai wanita cantik itu melayani pembeli yang menginginkan popcorn dan coke.

"Dingin?" sambil mengulurkan jaket kulit cokelat ke Kiara,  tangan lelaki itu bergerak posesif memperbaiki letak kain pantai di pahanya.

Kiara mengabaikan pertanyaan lelaki itu.
"Mau berbagi?"
Kembali terdengar suara bass lelaki itu.
Tatapan penuh tanya Kiara bertemu dengan manik hitamnya.
Kiara kembali mendesah pelan.
Mengabaikan degup jantungnya sendiri, Kiara mencoba tersenyum.

"Kau menyesal pergi denganku malam ini?"
Sebuah tangan kembali bergerak di atas kain pantai motif Bali.

Suara merdu yang mengumumkan film segera dimulai menarik Kiara cepat dan membuatnya berdiri.
Kiara pura pura tak melihat tangan yang terulur kearahnya, berjalan cepat sambil menyodorkan tiket yang dipegangnya kepada petugas.

Kiara tidak mampu mencerna jelas adegan demi adegan di depannya sampai sosok wanita dengan leher hampir putus memenuhi layar di depannya.
Jeritan ngeri lepas dari mulutnya.

"Maaf sa... Kiara, "
Kiara tak tahan untuk tidak menangis.
Ditahannya isak tertahan dengan menutup mulutnya.
Sebuah rengkuhan erat menghangatkannya.
Kiara mendengarkan sedu sedan lain di telinganya.
Ada cairan hangat jatuh di bahunya.

Sepedih inikah perpisahan.
Kiara berharap film horor itu tak pernah selesai.
Kiara tak ingin melepaskan pelukan ini, Kiara tak sanggup melepas lelaki yg skrg menangis di bahunya.

"A good friend is hard to find, hard to lose and impossible to forget."

***
#part1

BOYEN, Kesayangan Mamak

Boyen sedang mendengarkan lembut suara Mamak yang bercerita tentang Legenda Boneka Sigale-gale.

"Dulu sekali, boneka Sigale-gale dapat bergerak sendiri layaknya manusia karena ada roh yang merasuki boneka kayu tsb. Tapi itu dulu nak, sekarang bonekanya hanya dapat bergerak dengan bantuan tali tali yang dipegang sang dalang."

"Tapi Mak, apa Boneka Sigale-gale tidak capek harus menari 7 hari 7 malam?" desah Boyen dengan mata setengah tertutup.

"Roh yang masuk hanyalah roh tak berdaya yang terperangkap di sana krn keegoisan manusia nak."
Lirih suara Mamak hanya sayup terdengar di telinga Boyen kecil.

Lama setelah tertidur, Boyen bermimpi, Mamaknya menangis di atas tempat tidurnya.
Perlahan angin bertiup kencang, menghempas bilah kayu jendela di kamarnya.
Hujan turun lebat bagai ditumpahkan tergesa oleh manusia langit.
Boyen masih mampu melihat jelas di mimpinya, bagaimana sosok Mamaknya memudar dan kemudian menghilang bagai cahaya yang meredup perlahan.

"Mamak!!!"
Boyen tergesa keluar dari selimut tebal yang menghangatkannya semalam.

"Apa yang Mamak ceritakan semalam tidak sungguh sungguh terjadi kan Mak?, mana mungkin ada roh terperangkap di dalam boneka kayu."
Tanya Boyen tak sabar.

Mamak terdiam. Dibelainya lembut rambut, telinga, wajah dan mata Boyen.
Didekapnya sekuat tenaga ke dada sambil terisak lirih.

"Maafkan Mamak, Boyen, karena menunda kepergianmu. Tak seharusnya Mamak terus menginginkan kau tinggal disini.
Pergilah nak, pergilah temui roh Sigale-gale, kalian sama sama lelaki, mungkin kalian bisa berteman."

Dengan mantap di lemparkannya boneka kayu sebesar telapak tangan di meja makan ke tungku pembakaran tempatnya biasa menanak nasi.

Ada suara memilukan memanggil Mamak Mamak Mamak.
Ada suara terbakar dan rintihan lirih.
Ada jiwa  kecil yang tak rela pergi.

...

Buat Ikutan Kuis Barbie Yuni Zai