Kamis, 09 Juli 2015

Boyen dan Boneka Si Gale-Gale

Boyen sedang mendengarkan lembut suara Mamak yang bercerita tentang Legenda Boneka Sigale-gale.

"Dulu sekali, boneka Sigale-gale dapat bergerak sendiri layaknya manusia karena ada roh yang merasuki boneka kayu tsb. Tapi iyu dulu nak, sekarang bonekanya hanya dapat bergerak dengan bantuan tali tali yang dipegang sang dalang."

"Tapi Mak, apa Boneka Sigale-gale tidak capek harus menari 7 hari 7 malam?" desah Boyen dengan mata setengah tertutup.

"Roh yang masuk hanyalah roh tak berdaya yang terperangkap di sana krn keegoisan manusia nak."
Lirih suara Mamak hanya sayup terdengar di telinga Boyen kecil.

Lama setelah tertidur, Boyen bermimpi, Mamaknya menangis di atas tempat tidurnya.
Perlahan angin bertiup kencang, menghempas bilah kayu jendela di kamarnya.
Hujan turun lebat bagai ditumpahkan tergesa oleh manusia langit.
Boyen masih mampu melihat jelas di mimpinya, bagaimana sosok Mamaknya memudar dan kemudian menghilang bagai cahaya yang meredup perlahan.

"Mamak!!!"
Boyen tergesa keluar dari selimut tebal yang menghangatkannya semalam.

"Apa yang Mamak ceritakan semalam tidak sungguh sungguh terjadi kan Mak?, mana mungkin ada roh terperangkap di dalam boneka kayu."
Tanya Boyen tak sabar.

Mamak terdiam. Dibelainya lembut rambut, telinga, wajah dan mata Boyen.
Didekapnya sekuat tenaga ke dada sambil terisak lirih.

"Maafkan Mamak, Boyen, karena menunda kepergianmu. Tak seharusnya Mamak terus menginginkan kau tinggal disini.
Pergilah nak, pergilah temui roh Sigale-gale, kalian sama sama lelaki, mungkin kalian bisa berteman."

Dengan mantap di lemparkannya boneka kayu sebesar telapak tangan di meja makan ke tungku pembakaran tempatnya biasa menanak nasi.

Ada suara memilukan memanggil Mamak Mamak Mamak.
Ada suara terbakar dan rintihan lirih.
Ada jiwa  kecil yang tak rela pergi.

...
.#DiikutkanGiveawayYuniZai
Alhamdulillah menang hihi

Nyoba bikin cerpen mini.

Ingatkah Kau

Ingatkah kau,
Sewaktu kaki kaki mungil kita berkejaran di lantai papan dan menimbulkan suara berderit yang membuat kesal mereka.

Ingatkah kau,
Ketika pekatnya malam belum tersibak dan suara sapu berdentum mengetuk lantai papan tepat di kamar kita tidur bersama, dan kita pun dengan mata setengah terpejam berjalan beriringan menuju pancuran tua di halaman belakang untuk berwudhu.

Ingatkah kau,
Saat liburan tiba, kita disibukkan dengan pembagian kerja sambil semua tak ada yang mau mengalah.

Ingatkah kau,
Saat hari kalangan tiba di desa kita, setiap deru taksi yang berhenti di depan rumah akan disambut dengan kepala kepala mungil yang tak sabar menanti buah tangan.

Ingatkah kau,
Setelah sholat subuh, Mami akan membekali kita dengan uang 100 rupiah untuk membeli #gonjing untuk menghangatkan tubuh kita yang mengigil mencoba menghalau angin pegunungan.


Kita akan berjalan pelan menapaki jalan yang gelap menuju langgar ngaji tempat teman teman bermain kita telah menunggu gembira.

Lalu setelah sholat subuh selesai ditunaikan, kita akan mengambil Al Qur'an kecil di atas meja dan selendang segitiga putih dan bersiap menuju langgar mengaji di tengah desa.

Jalanan gelap, bahkan kerikil yang biasa berserakan di jalan desa tak mampu kita lihat dengan jelas. Dengan menahan gigil yang semakin menerkam, kaki kaki kecil kita tergesa melangkah.

Sebuah bangunan sederhana terang benderang menanti kita. Petromaks besar tlah menyala terang dan teman sebaya tlah riuh berkumpul.

Ada jeda  mendebarkan ketika langkah kaki yang begitu kita kenal mulai mendekat. Wajah keras Kyai Kip menyembul di pintu langgar dan serentak ruangan menjadi senyap.

Tertatih lidah mungil kita mengeja ayat demi ayat dan mencoba membaca dengan sebaik mungkin hingga tiba giliran kita untuk "menghadap".

Disanalah ujian kita yang sesungguhnya, mental kita diuji, bacaan kita didengar dengan seksama lalu tajwid kita dikoreksi.
Dan akhirnya kita hanya mampu berdoa, semoga bacaan kita dapat diteruskan ke ayat selanjutnya agar terhindar dari bacaan itu itu saja.

Pagi mulai merekah, ketika langgar kita bubar. Jalanan yang tadi tertutup pekat mulai tersibak. Rumah panggung disekitar kita mulai berbenah. Suara sapu, air yang mengucur atau sekedar percakapan antara tetangga mulai terdengar.

Langkah kita kembali bergegas, menyiapkan diri untuk sekolah dan bertemu kembali dengan teman mengaji di halamn sekolah.

Tak berapa lama, jalan desa kembali dipenuhi anak anak berseragam merah putih.

Mahoni di Memory by Windry Ramadhina

Karakter #Mahoni dan #Sigi di novel #MEMORY karya penulis kesayanganku #WindryRamadhina

Cerita yang memikat, bercerita tentang masa kecilnya yang penuh dengan aroma kayu, pernis dan suara palu dipukul seakan bercerita bagaimana sosok Ayah yang dibencinya sesungguhnya adalah sosok paling dirindukannya.

Lalu semua penjelasan tentang konte sanguin, folkcloric atau sketsa usang memikatku untuk tahu lebih banyak tentang dunia arsitek yang begitu dikuasai oleh Windry.

Aku bahkan berandai andai puteriku akan mengagumi Gugenheim sama seperti Mahoni di novel ini.

Mahoni yang tersesat dlm gambaran semu dunia Mae yang kelam,
Mahoni yang mandiri mengejar impiannya hingga ke benua lain,
Mahoni yang memuja seorang lelaki yang lekat dengan masa lalunya,
Mahoni yang merindu hingga
Mahoni yang akhirnya luluh pada keteguhan dan kepolosan Sigi, adik tirinya.

Mahoni mengingatkanku bahwa ada kalanya mimpi yang kita kejar dengan sepenuh hati harus luruh demi sebua mimpi baru untuk seseorang yang kita sayangi.

Sigi dan Mahoni adalah penggambaran sempurna tentang kasih sayang pada saudara. Mahoni dan Sigi juga membuatku percaya, bahwa kebahagiaan itu adalah hak kita. Kita berhak bahagia sebagaimana kita bahagia bila orang yng kita sayangi juga bahagia.

Dan Mahoni membuktikan, dunia tak sekelam cerita Mae.