Kamis, 09 Juli 2015

Ingatkah Kau

Ingatkah kau,
Sewaktu kaki kaki mungil kita berkejaran di lantai papan dan menimbulkan suara berderit yang membuat kesal mereka.

Ingatkah kau,
Ketika pekatnya malam belum tersibak dan suara sapu berdentum mengetuk lantai papan tepat di kamar kita tidur bersama, dan kita pun dengan mata setengah terpejam berjalan beriringan menuju pancuran tua di halaman belakang untuk berwudhu.

Ingatkah kau,
Saat liburan tiba, kita disibukkan dengan pembagian kerja sambil semua tak ada yang mau mengalah.

Ingatkah kau,
Saat hari kalangan tiba di desa kita, setiap deru taksi yang berhenti di depan rumah akan disambut dengan kepala kepala mungil yang tak sabar menanti buah tangan.

Ingatkah kau,
Setelah sholat subuh, Mami akan membekali kita dengan uang 100 rupiah untuk membeli #gonjing untuk menghangatkan tubuh kita yang mengigil mencoba menghalau angin pegunungan.


Kita akan berjalan pelan menapaki jalan yang gelap menuju langgar ngaji tempat teman teman bermain kita telah menunggu gembira.

Lalu setelah sholat subuh selesai ditunaikan, kita akan mengambil Al Qur'an kecil di atas meja dan selendang segitiga putih dan bersiap menuju langgar mengaji di tengah desa.

Jalanan gelap, bahkan kerikil yang biasa berserakan di jalan desa tak mampu kita lihat dengan jelas. Dengan menahan gigil yang semakin menerkam, kaki kaki kecil kita tergesa melangkah.

Sebuah bangunan sederhana terang benderang menanti kita. Petromaks besar tlah menyala terang dan teman sebaya tlah riuh berkumpul.

Ada jeda  mendebarkan ketika langkah kaki yang begitu kita kenal mulai mendekat. Wajah keras Kyai Kip menyembul di pintu langgar dan serentak ruangan menjadi senyap.

Tertatih lidah mungil kita mengeja ayat demi ayat dan mencoba membaca dengan sebaik mungkin hingga tiba giliran kita untuk "menghadap".

Disanalah ujian kita yang sesungguhnya, mental kita diuji, bacaan kita didengar dengan seksama lalu tajwid kita dikoreksi.
Dan akhirnya kita hanya mampu berdoa, semoga bacaan kita dapat diteruskan ke ayat selanjutnya agar terhindar dari bacaan itu itu saja.

Pagi mulai merekah, ketika langgar kita bubar. Jalanan yang tadi tertutup pekat mulai tersibak. Rumah panggung disekitar kita mulai berbenah. Suara sapu, air yang mengucur atau sekedar percakapan antara tetangga mulai terdengar.

Langkah kita kembali bergegas, menyiapkan diri untuk sekolah dan bertemu kembali dengan teman mengaji di halamn sekolah.

Tak berapa lama, jalan desa kembali dipenuhi anak anak berseragam merah putih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar