Senin, 16 Januari 2012

SUATU PAGI DI "PAK SAYUR'


Copy dari Note FBku


Seperti biasa, pagi jam enam seperempat, aku sudah mendorong stroller ke tempat pak sayur langganan biasa mangkal, di pertigaan depan. Tidak setiap hari memang, tapi rutin.

Hmm, mudah mudahan pak sayurnya tetep datang, karena semalam hujan lumayan deras, dan biasanya kalau malamnya hujan, banjir masih menggenang sampai pagi hari. Rintik gerimis  mulai menyadarkanku. Berhenti sejenak, kupasang penutup atas stroller putraku, Chio melihatku sambil tertawa memamerkan deretan gigi depannya. Pagi ini aku tak ingin tergesa, ayah masuk siang, jadi aku tak perlu buru buru. Deretan rumah di blokku sudah mulai terlihat menggeliat. Deru mobil yang dipanasin sebelum dibawa kerja tampak didepan rumahku, ada juga yang menyempatkan diri meregangkan tubuh di teras rumahnya.

Sampai diujung blok, kuarahkan pandangan ke kiri, dan yupppy, pak sayurnya terlihat sibuk melayani pembelinya. Bergegas kudorong strollerku lebih cepat, aku ingat kemarin titip pete ke pak sayur, takut kehabisan, karena pak sayur bilang biasanya Cuma bawa berapa lonjor, jadi siapa cepat, dia dapat. Aku nggak tahu itu trik pak sayur atau bukan, yang pasti langkah kakiku semakin cepat menujunya.
Yeah, petenya ada,  secepat kilat kuambil 2 lonjor pete di atas alas plastik tempat sayuran dijejerkan seadanya. Masih asyik berfikir, mau masak apa, karena emang penyakitnya emak emak kalo dah di pasar atau pak sayur suka bingung mau masak apa, terlalu banyak pilihan.

Kudengar pak sayur menghitung satu persatu belanjaan orang disebelahku,
 “ totalnya 30 ribu bu “, ujar pak sayur mantap.
“ udangnya udah  dihitung kan? “ tanya ibu itu sambil jarinya menunjuk udang diatas lapak.
 “ Oh belum bu, kan masih diluar, belum dimasukin kantong, jadi belum dihitung” pak sayur kembali menjawab mantap.
“ Loh, kok bisa beli sayur aja 30 ribu, coba hitung lagi “ si ibu terlihat kaget.

Akhirnya pak sayur mengulang kembali hitungannya, sambil menunjukkan  setiap barang sebelum menambahkan jumlahnya. Dan ketika akhirnya udang  dimasukkan kekantong plastik, totalnya hanya 29 ribu. Ibu disampingku bukannya senang malah jadi marah marah. Si Ibu masih sibuk mengumpat pak sayur yang dia bilang ngitungnya nggak bener, mengatakan bahwa ia sering iseng menghitung kembali belanjaan  setelah sampai dirumah dan sering tidak cocok. Pak sayur terlihat kalem kalem saja menanggapi omelan si ibu. Dan dia tetap tidak memberikan komentar sampai si ibu menenteng belanjaannya sambil terus mengomel.

Aku tidak terlalu  peduli dengan omelan si ibu, bukannya aku membela pak sayur. Jujur, aku juga suka minta dihitung kembali jika terasa tidak cocok dengan hitunganku. Aku positif thinking aja, bisa aja pak sayur emang beneran lupa atau khilaf, namanya juga manusia. Yang aku sesalkan adalah reaksi si ibu tadi. Aku yakin, seandainya si ibu bilang baik baik, pasti pak sayurnya juga akan minta maaf dan tidak hanya mendiamkannya.Dan meskipun si ibu benar, sikap tadi justru mempermalukan dirinya sendiri. Mengapa harus terpancing emosi di depan umum, didepan ibu ibu lainnya yang belum tentu sependapat dengan dia.

Terlintas kembali kejadian  yang sudah lama berselang.  Waktu itu, aku pergi ke pasar, yang biasanya kulakukan setiap hari minggu, karena hari senin sampai sabtu aku bekerja.Sesampai di penjual ikan, aku mencoba menawar  ikan yang ku inginkan, setelah tawar menawar yang lumayan alot, aku akhirnya membeli 2 kg, si pedagang yang terlihat tidak terlalu senang dengan harga yang disepakati terlihat cepat-cepat memasukkan ikan kekantong plastik. Bahkan timbangan yang masih naik turun ( tanda belum pas ) tidak dihiraukannya. Aku berusaha protes, tapi  penjual mendiamkanku. Saat   penjual menyodorkan kantong itu   dengan sedikit kasar, aku benar benar emosi. Kulemparkan ikan itu kehadapan penjual sambil berkata,
 “  kenapa nggak  “ dibetetin” ?, kan biasanya dbetetin kalau beli ikan disini “ .
“ Oh, nek  “ dibetetin “ yo  tambah duite “ si penjual berkata pelan.

Aku  terbakar emosi dan mengumpat si penjual habis habisan. Waktu itu dalam benakku, dia berusaha melampiaskan kemarahannya karena kalah bertransaksi ( harga  yang kutawar terlalu murah ) dengan berbuat seperti itu. Sampai di rumah, aku  menyesali tindakanku, aku malu  telah berteriak dan mengumpat pada si penjual.

Seminggu kemudian aku  berniat minta maaf ke penjual  itu. Sampai didepan si penjual, bukannya kata maaf yang terucap, aku malah menanyakan harga ikan bandengnya, dan tanpa banyak bicara aku langsung membeli  tanpa menawar. Tak lupa kuucapkan terima kasih dan bersikap lebih ramah kepada si penjual. Entah si penjual lupa denganku, atau dia juga sudah melupakan umpatanku, dia melayaniku dengan sangat baik. Subhanallah.

So, apa yang kualami pagi tadi,  menjadi refleksi bagi diriku, untuk tidak tersulut emosi, apalagi didepan umum.  Darah sumatera memang mengalir di tubuhku, sikap spontan  adalah ciri khasku, tapi aku berusaha untuk lebih bijaksana untuk tidak cepat terpancing emosiku.

Akhirnya, makasih pak sayur, udah jadi  “teman” kami.  Karena pak sayur, kami nggak perlu repot jauh jauh ke pasar, kalu Cuma pengen masak sambel pete dan tempe goreng. Hidup sambel pete !!! 

 ·  ·  · Share · Delete

Tidak ada komentar:

Posting Komentar