Minggu, 26 Februari 2012

Masih pantaskah aku berduka untuk sahabatku Andriani




Hari ini mendung, sama seperti hari hari sebelumnya.  Tak sampai berapa lama, gerimis pelan menari mengikat pagi dengan derainya yang mendamaikan.
Hm, tak tergesa, kucoba beranjak  dari kursi malasku. Hari ini aku off, masih tersisa sekelumit  masalah yang memenuhi fikiranku. Agak terganggu, tapi kucoba menepisnya sejenak, paling tidak menepikannya untuk sementara.

Tak ada yang berbeda, bahkan firasatpun tidak, selain  getaran handphoneku yang tak lekas berhenti.
Aku sengaja meniadakan bunyian bila sedang tak ingin diganggu.

Tepat jam 2 siang, handphoneku kembali bergetar, dari  nomor yang sudah tak asing lagi.
Tak siap, kutekan tombol OK dan mendengarkan suara diseberang dengan sedikit penasaran.
Innalillahi wainnalillahirojiun. Ternyata itu khabar duka.Khabar tentang berpulangnya salah satu sahabat terbaikku yang pernah ada. 
Tak banyak yang kudapat darinya, tak sabar kutelfon nomor yang kuingat luar kepala, diangkat oleh seorang pria yang kukenal sebagai suami sahabatku. Ditangah pembicaraan, tak dapat kutahan airmataku.

Mungkin bagi ku , bagi kami, khabar ini terasa begitu tiba-tiba, tapi siapa yang bisa mengira umur manusia ???

Ya Tuhan, masih pantaskah aku memanggilmu sahabat, bahkan sakitmupun aku tak pernah tahu.
masih benarkah kita berteman, bila  sekedar bertukar khabarpun  terasa aneh kita lakukan.
Entahlah, di hatiku, kau masih tetap sahabat terbaikku, dan aku tak pernah ragu itu.

Buat sahabatku, yang sekarang telah tenang dalam dekapanNya, semoga kau bahagia ditempatmu yang baru.
Semoga kau memaafkan ketidaktahuanku dan ketidakpedulianku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar